Bahaya deepfake dan disinformasi kepada realitas hidup

Ilustrasi by: komunitas Literasi Al Fihri 

Oleh : Muh. Faozhan 

Mahasiswa universitas Muhammadiyah Mataram 


Di era di mana melihat adalah percaya menjadi hukum mutlak, kehadiran deepfake telah meruntuhkan pilar dasar realitas kita. Sebagai seseorang yang tumbuh dan mengamati perkembangan teknologi, saya merasa kita sedang berdiri di persimpangan yang berbahaya, di satu sisi kita memuja kemajuan AI, namun di sisi lain, kita kehilangan kedaulatan atas kebenaran.

Berikut adalah catatan mendalam saya mengenai fenomena ini sebuah refleksi kritis tentang bagaimana piksel yang dimanipulasi dapat menghancurkan kehidupan nyata.


Pertama, Erosi Kebenaran Ketika Realitas Bisa Difabrikasi

Deepfake bukan sekadar filter wajah yang lucu, ini adalah senjata disinformasi berbasis Artificial Intelligence (AI). Menggunakan teknik Deep Learning, teknologi ini mampu memetakan wajah dan suara seseorang ke dalam konten yang tidak pernah mereka lakukan atau katakan. Bahayanya bukan hanya pada apa yang "palsu", tetapi pada dampaknya terhadap apa yang "asli". Ketika video palsu terlihat begitu nyata, kita akan mulai meragukan video yang benar-benar terjadi. Inilah yang disebut oleh para ahli sebagai "Liar’s Dividend" di mana pelaku kejahatan bisa mengelak dari bukti asli dengan mengklaim bahwa itu hanyalah "deepfake".


Kedua, Studi Kasus Ketika Piksel Menjadi Racun, untuk memahami skala bahayanya, kita harus melihat jejak digital yang sudah memakan korban.

 * Disinformasi Tokoh Publik (Sri Mulyani)

Tokoh ekonomi sekaliber Sri Mulyani tidak luput dari serangan. Video deepfake dirinya sering disalahgunakan untuk memberikan pernyataan palsu mengenai "guru adalah beban negara" Dalam waktu singkat, media sosial dibanjiri kecaman. Banyak yang mengekspresikan kekecewaan, bahkan kemarahan terhadap apa yang diyakini sebagai bentuk pelecehan terhadap profesi guru. Sumber: kompas.com 22 Agustus 2025, 10:40 WIB. Bahaya Ini bukan hanya soal uang, tapi stabilitas ekonomi. Jika masyarakat percaya pada pernyataan palsu seorang Menteri Keuangan, kepanikan pasar bisa terjadi dalam hitungan menit. 

 * Kekerasan Gender Berbasis Online (KGBO)

Kasus klasik namun tetap menghantui adalah penggunaan wajah selebritas atau warga sipil dalam konten pornografi non-konsensual. Sejak kasus yang menimpa Nagita Slavina (2022) hingga kasus-kasus terbaru di Semarang (November 2025), teknologi ini terus digunakan untuk merusak reputasi perempuan.


Ini hanya dua dari sekian banyak contoh kasus yang telah terjadi di Indonesia.


Ketiga, Bahaya Laten Matinya Privasi dan Integritas, secara kritis kita harus menyadari bahwa deepfake menciptakan bentuk baru pencurian identitas. Identitas kita bukan lagi sekadar nomor KTP atau kata sandi, melainkan wajah, biometrik, dan nada suara kita. "Jika suara dan wajah kita bisa dipinjam tanpa izin untuk menyebarkan kebencian atau melakukan penipuan, maka privasi adalah sebuah kemewahan yang sudah punah."


Terakhir Kembali kepada diri kita, teknologi hanyalah alat, kitalah yang memegang kendali moralnya. Di tengah tsunami deepfake, kejujuran dan integritas manusia menjadi mata uang yang paling berharga. Kita harus menjadi lebih cerdas daripada algoritma yang di ciptakan. Jangan biarkan mata menipu pikiran kita. Di era manipulasi ini, berpikir kritis bukan lagi pilihan, melainkan cara untuk bertahan.


Tulisan ini atas dasar dari fenomena realita yang terjadi dan atas dasar keresahan, semoga tulisan ini memberi nilai manfaat, ammin.

Bahaya deepfake dan disinformasi kepada realitas hidup Bahaya deepfake dan disinformasi kepada realitas hidup Reviewed by komunitasliterasialfihri on April 15, 2026 Rating: 5

Tidak ada komentar